Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

PROPOSAL PEMBANGUNAN RADIO DAKWAH ISLAM DI PURWOREJO

MAJELIS TA’LIM AL-ATSARI PURWOREJO
REKOMENDASI KEMENTERIAN AGAMA
KANTOR KABUPATEN PURWOREJO
No : kd.11.06/5.d/BA.00/588/2007

PEMBANGUNAN RADIO DAKWAH ISLAM
 ”RADIO RODJA” 

RADIO DAKWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
DI WILAYAH KABUPATEN PURWOREJO DAN SEKITARNYA

Untuk Muhsinin/Dermawan di Bumi Allah

Semoga Allah memberikan keberkahan atas ilmu, amal, harta dan keluarga bagi mereka

Rekening wakaf Radio :

Bank BNI Syari’ah Cab. Semarang No: 0157725847 an. Husni Hadiyanto

Kontak Person : 085729912875,082138429697

Sekretariat : Toko Buku Media Hidayah, Jl. Jend. Sudirman 71 (Timur RSUD Purworejo)

Sumber : http://alatsarypurworejo.wordpress.com/2012/10/09/untuk-muhsinin-proposal-pembangunan-radio-dakwah-islam-di-purworejo/

Hukum Embel-embel As Salafy

ثم سُئل حفظه الله : يقول فضيلة الشيخ وفقكم الله :
بعض الناس يختم اسمه بـ (السلفي) أو (الأثري)، فهل هذا من تزكية النفس ؟ أو هو موافـــق للشـرع؟
Pertanyaan, “Sebagian orang mengakhiri namanya dengan embel-embel assalafy atau al atsary. Apakah tindakan ini termasuk memuji diri sendiri ataukah malah sejalan dengan syariat?”
فأجاب حفظه الله :
المفروض أن الإنسان يتبع الحق ، المطلوب أن الإنسان يبحث عن الحق ويطلب الحق ويعمل به ،
Jawaban Syaikh Shalih al Fauzan, “Yang menjadi kewajiban setiap orang adalah mengikuti kebenaran (baca: manhaj salafy). Yang diperintahkan atas setiap orang adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya.
أما أنه يُسمى بـ (السلفي) أو (الأثري) أو ما أشبه ذلك فلا داعي لهذا ، الله يعلم سبحانه وتعالى
Adapun menamai diri sendiri dengan embel-embel assalafy atau al atsary atau semisal itu maka itu adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan. Allah mengetahui realita senyatanya dari kondisi seseorang.
(قل أتعلمون الله بدينكم والله يعلم ما في السماوات وما في الأرض والله بكل شيء عليم) .
Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah apakah kalian hendak memberi tahu Allah tentang ketaatan kalian. Dan Allah itu mengetahui semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan Allah itu mengetahui segala sesuatu” [QS al Hujurat:16].
التسمي : (سلفي) ، (أثري) أو ما أشبه ذلك، هذا لا أصل له ، نـحن ننظر إلى الحقيقة ، ولا ننظر إلى القول والتسمي والدعاوى .
Memberi embel-embel assalafy, al atsary atau semisalnya di belakang nama seseorang adalah perbuatan yang tidak berdasar. Kita melihat realita senyatanya, bukan pengakuan, embel-embel dan klaim.
قد يقول إنه (سلفي) وما هو بسلفي (أثري) وما هو بأثري ، وقد يكون سلفياً وأثرياً وهو ما قال إني أثري ولا سلفي .
Boleh jadi ada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai salafy padahal dia bukanlah salafy atau mengaku-aku atsary padahal bukan atsary. Boleh jadi ada seorang yang benar-benar salafy dan atsary namun dia tidaklah menyebut-nyebut dirinya sebagai atsary atau pun salafy.
فالنظر إلى الحقائق لا إلى المسميات ولا إلى الدعاوى ، وعلى المسلم أنه يلزم الأدب مع الله سبحانه وتعالى .
Yang jadi tolak ukur adalah realita senyatanya, bukan semata-mata klaim. Menjadi kewajiban setiap muslim untuk beradab kepada Allah.
لما قالت الأعراب آمنا أنكر الله عليهم: ( قالت الأعراب آمنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسلمنا )
Tatkala orang-orang arab badui mengatakan, “Kami telah beriman” Allah menegur mereka dengan firman-Nya yang artinya, ”Orang-orang badui mengatakan, ”Kami telah beriman”. Katakanlah kalian belum beriman akan tetapi katakanlah kami telah berislam” [QS al Hujurat:14].
الله أنكر عليهم أنهم يصفون أنفسهم بالإيمان ، وهم ما بعد وصلوا إلى هذه المرتبة، توُّهُم داخلين في الإسلام .
Allah menegur mereka karena mereka memberi label iman kepada diri mereka sendiri karena salah pahal dengan status mereka yang telah masuk ke dalam Islam padahal mereka belum sampai level tersebut
أعراب جايين من البادية ، وادعوا أنهم صاروا مؤمنين على طول! لا.. أسلَموا دخلوا في الإسلام ، وإذا استمروا وتعلموا دخل الإيمان في قلوبهم شيئاً فشيئاً :
Orang-orang badui yang baru saja datang dari perkampungan nomaden mengklaim bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Ini tentu saja tidak benar. Mereka baru saja berislam alias baru saja masuk Islam. Jika mereka terus berislam dan mau terus mengkaji maka iman akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit.
(ولما يدخل الإيمان في قلوبكم) كلمة (لمّا) للشيء الذي يُتوقع ، يعني سيدخل الإيمان ، لكن أنك تدعيه من أول مرة تزكية للنفس.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan iman itu belum masuk ke dalam hati kalian” [QS al Hujurat:14]. Kata-kata lamma yang kita terjemahkan dengan ’belum’ adalah kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan akan terwujudnya apa yang diharapkan. Artinya iman akan masuk ke dalam hati mereka. Akan tetapi tiba-tiba anda mengklaim diri anda sebagai orang yang beriman maka ini termasuk memuji diri sendiri yang merupakan perbuatan terlarang.
فلا حاجة إلى أنك تقول أنا (سلفي) .. أنا (أثري) أنا كذا.. أنا كذا ، عليك أن تطلب الحق وتعمل به، تُصلح النية والله هو الذي يعلم سبحانه الحقائق.
العلامة صالح بن فوزان الفوزان
Tidak perlu anda mengatakan ‘Saya salafy, Saya atsary’, saya demikian atau demikian. Kewajiban anda adalah mencari kebenaran lalu mengamalkannya. Perbaikilah niat dan Allah itu yang mengetahui hakekat senyatanya”.
Sumber:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15967
Catatan:
Hendaknya hati kita berlapang dengan perbedaan di antara para ulama.
Jangan jadikan ijtihad seorang ulama ahli sunnah sebagai manhaj salaf sehingga tidak menerima diskusi dan kritik
Artikel www.ustadzaris.com

posted under | 0 Comments

BAGAIMANA MEMAHAMI & MENGAMALKAN ISLAM



MENITI JALAN KESEMPURNAAN

Oleh
Ustadz Rahmat Abu Zakariyya
(Alumni Ma’had Darul Hadits Yaman)
Pada Dauroh Ilmiyyah di Masjid Al Hidayah (Perum Mranti Purworejo) Ahad, 20 Februari 2011
Bismillahirrohmanirrohim

MUQODDIMAH



Alloh Ta’ala berfirman :

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk /Al-hudaa (Al-Quran) dan diinil haq (agama yang benar) untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS. At-Taubah : 33)

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-hudaa) dan (diinil haq) agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al-Fath : 28)

Al-Hudaa : Ilmu yang bermanfaat
Diinul Haq : Amal yang Sholih

Berangkat dari dua ayat yang mulia ini, dengan bantuan Alloh ta’ala Kita akan mengkaji tentang bagaimana memahami ISLAM dan bagaimana mengamalkannya. Karena dengan dua hal inilah Rosul kita yang mulia diutus kepada umatnya. Dan itulah Al-Islam yang terdiri dari dua poros yang tak terpisahkan.
Dengan dua hal ini pula Alloh menghendaki agar Islam mengungguli semua agama yang ada tanpa terkecuali. Dan Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya. Sejarah telah mengabadikan kemenangan-kemenangan Islam. Baik menang dengan ilmu dan ini selalu maupun memang dengan amal di medan perang dan ini silih berganti. Sehingga Islam menjangkau wilayah yang sangat luas dalam tempo yang relatif singkat.
Tapi hari ini sebagian orang Islam berkecil hati, merasa tidak berdaya. Kenapa hal ini terjadi? Jawabannya : bukan Islamnya yang salah tapi jauhnya kaum muslimin dari Islam itu sendiri. Jauh secara ilmiah dan amaliah. Sehingga kita menjadi santapan musuh-musuh Islam. Padahal kemarin kita menuntun mereka untuk mengenal peradaban.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Jika kalian telah berjual beli dengan riba, telah mengambil ekor-ekor sapi, kalian senang dengan pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Alloh akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dilepaskan sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HSR. Abu Dawud, Ahmad, Thobroni dan Baihagi)
Dari sini nampak jelas sekali betapa butuhnya kita untuk kembali mengoreksi ke islamaman dan berislamnya kita. Dengan menggali ilmu Islam dan meng amal kannya.


BELAJAR ISLAM


A.    KEUTAMAAN ILMU
Ibnu Qoyyim menyebutkan sekitar 130-an keutamaan ilmu dalam kitabnya “Al-Ilmu” Diantaranya :
1.      Persaksian ulama dibarengkan dengan persaksian Alloh dan malaikat-Nya tentang perkara yang paling agung. “Alloh menyatakan bahwa tidak ada ilah (Tuhan) yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada ilah (Tuhan) yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Imron : 18)

Dalam ayat ini ada beberapa sisi keutamaan ulama :
·         Merekalah yang diminta kesaksiannya tentang keesaanNya
·         Digabungkan dengan kesaksian Alloh
·         Digabungkan bersama kesaksian malaikat
·         Rekomendasi dari Alloh bahwa merekalah orang yang adil

2.      Orang alim sama dengan orang jahil? Ini Istifham inkary
Alloh berfirman : “Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar : 9)

3.      Tidak sama, sebagaimana ahli neraka dan ahli Jannah :
Alloh Ta’ala berfirman : “Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga : para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. Al Hasyr : 20)

4.      Yang disebut ahli dzikir adalah ulama’
Alloh Ta’ala berfirman : “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl : 43)

5.      Nabi tidak diperintah meminta tambahan kecuali ilmu
Alloh Ta’ala berfirman : “… Dan katakanlah, “Yaa Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thoha : 114)

6.      Dengan ilmu meraih derajat yang tinggi
Alloh Ta’ala berfirman : “Niscaya Alloh akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Mujadalah : 11)
Alloh Ta’ala berfirman : “Kami angkat derajat orang yang kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf : 76), Alloh Ta’ala berfirman : “Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrohim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggalkan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Robbmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al An’am : 83)

7.      Ulama’lah orang yang takut kepada Alloh
Alloh Ta’ala berfirman : “Diantara hamba-hamba Alloh yang takut kepada-Nya, hanyalah para Ulama. Sungguh Alloh Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Faathir : 28)

8.      Mereka orang yang berbahagia
Alloh Ta’ala berfirman : “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari RobbMu. Penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Alloh dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 57-58). Karunia Alloh adalah iman dan rahmatNya adalah Al-Qur’an dan keduanya adalah ilmu

9.      Al-Hikmah adalah karunia besar
Alloh Ta’ala berfirman : “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al Baqoroh : 269). Al-Hikmah adalah ilmu dan amal

10.  Alloh mencela orang yang bodoh, yang tidak mau belajar

atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al Furqon : 44)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,(QS. Ar Ra’du : 19)

11.  Ayat yang pertama turun adalah perintah untuk memperoleh ilmu

1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.


12.  Bodoh adalah sifat penghuni naar (neraka)
Alloh Ta’ala berfirman : “Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan Jin dan Manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al A’rof : 179)

13.  Berilmu adalah tanda kebaikan
Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Alloh kebaikan, maka akan difahamkan ilmu agama.” (HSR. Bukhori Muslim)

14.  Ahli ilmu lebih utama dari ahli ibadah
Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

15.  Ilmu adalah jalan menuju sorga dan penuntut ilmu diridhoi Malaikat, semua makhluq memohonkan ampun, mereka seperti bulan diantara bintang, meraih warisan para Nabi

16.  Ulama dan Tholibul ilmu terbebas dari kutukan. Rosul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Dunia terlaknat dan terlaknat pula semua yang ada padanya, kecuali dzikir kepada Alloh dan yang mendukungnya, orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu.” (HR. Tirmidzi)

17.  Iman tidak terwujud kecuali dengan ilmu. Dan iman adalah amalan yang paling utama. Abu Bakr bin ‘Ayyasy berkata : “Abu Bakar tidaklah mengungguli kalian dengan puasa dan sholat yang banyak, namun dengan sesuatu yang menancap dalam hatinya.”

18.  Ilmu lebih baik daripada ibadah sunnah
Ibnu Abbas, Abu Huroiroh dan Imam Ahmad berkata : “Mempelajari ilmu pada sebagian malam lebih kami sukai daripada menghidupkan malam dengan qiyamul lail.”

19.  Ilmu adalah jihad
Abu Darda’ berkata : Barang siapa berpendapat bahwa pergi mencari ilmu bukan merupakan jihad, sungguh telah kurang akal.”

20.  Ilmu dan tafakkur
·         Tafakkur adalah ibadahnya Abu Darda’ yang paling utama
·         Al Hasan berkata : “tafakur sesaat lebih baik daripada berdiri sholat semalam.”
·         Al Fudhoil berkata : “tafakur adalah cermin yang menampakkan kesalahan-kesalahanmu.”
·         Ats Tsaury berkata : “Jika seseorang memiliki akal pikiran, maka segala sesuatu baginya adalah pelajaran.”
·         Bisyr berkata : “jika manusia memikirkan keagungan Alloh, pasti mereka berhenti dari maksiat kepadanya.”
·         Ibnu Abbas berkata : “Dua rekaat dengan tafakur lebih baik daripada qiyam semalaman tanpa hati.”

Diketik ulang Sunaryo dengan sedikit penambahan
Bersambung Insya Allah

posted under | 0 Comments

Da’i Tukang Dongeng

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para rasul, kepada para keluarga dan sahabat beliau.
Sidang pembaca yang dimuliakan Allah ta’ala, sungguh fenomena yang teramat menyedihkan tatkala kita melihat berbagai media cetak lebih mengedepankan kisah-kisah, hikayat-hikayat yang validitasnya patut dipertanyakan sebagai bahan dakwah ke masyarakat. Tidak hanya di media massa, di lapangan dakwah pun, ceramah para da’i sering kita temui lebih sering dipenuhi kisah-kisah dongeng dan digunakan sebagai dalil, bahkan di satu kesempatan seorang ustadz penceramah selama satu jam lebih berceramah dengan berdalilkan kisah tanpa sedikitpun menyebut ayat Al Quran dan hadits nabi!
Sidang pembaca yang dirahmati Allah ta’ala, meski tujuan mereka baik, tapi ekses dari penyampaian kisah-kisah tersebut sebenarnya adalah memalingkan manusia dari Al Quran dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah kita tidak tahu bahwa Allah ta’ala mengingatkan kita untuk mempergunakan Al Quran ketika mendakwahi?!
Banyak ayat-ayat Allah yang mensiyalir akan hal itu. Allah ta’ala berfirman,

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ (٤٥)
Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku. (Qaaf: 45).
فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (٥٢)
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar. (Al Furqan: 52).
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٩١)وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ (٩٢)
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang beragama Islam. Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan. (An Naml: 91-92).
Saudaraku, sidang pembaca yang dirahmati Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya banyak menyampaikan kisah-kisah ketika berdakwah merupakan perkara baru yang tidak berdalil!! Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwasanya beliau mengatakan,
لم يُقَص – بضم الياء وفتح القاف – على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ولا عهد أبي بكر ولا عهد عمر ولا عهد عثمان إنما كان القصص حيث كانت الفتنة
“Kisah tidak pernah disampaikan di zaman Abu Bakr, tidakpula di zaman ‘Umar dan ‘Utsman. Kisah hanya disampaikan ketika fitnah tersulut.”[1]

Mengapa Berdakwah dengan Dongeng?
Saudaraku tercinta, sidang pembaca yang dimuliakan Allah. Pertanyaannya, apakah motif yang mendorong para da’i mengganti ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi dengan membawakan kisah-kisah ketika berdakwah? Berikut beberapa motif yang mengakibatkan hal tersebut.
  • Minimnya kemampuan para da’i dalam berdalil dengan ayat Al Quran dan hadits nabi yang shahih.
Anda dapat melihat para da’i tersebut, imma mereka tidak mampu menghafalnya atau tidak mampu bagaimana berdalil dengannya (beristidlal)! ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah membicarakan perihal mereka,
«أعيتهم الاحاديث أن يحفظوها….»
Hadits-hadits melemahkan mereka sehingga mereka tidak mampu menghafalnya.[2]
Ketahuilah mereka tidak mampu menghafalnya karena Al Quran sangat berat dan agung sebagaimana firman-Nya,
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا (٥)
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (Al Muzammil: 5).
Demikianlah para da’i tukang dongeng, mereka tidak mampu memikulnya, karena harus dihafal dan ditilawahi dengan benar, tidak hanya itu, juga harus digunakan sebagai dalil dengan metode yang tepat. Berbeda dengan kisah yang sering mereka bawakan, jika kisah-kisah tersebut direkayasa sedemikian rupa, mereka berpikir siapa kiranya yang akan mengoreksi mereka ?
  • Ingin tenar dan menarik perhatian manusia.
Sahabat Tamim ad Daari pernah berkata kepada ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma,
دعنى ادع الله وأقص واذكَّر الناس
Biarkan saya, saya berdo’a kepada Allah, membawakan kisah dan mengingatkan manusia.
‘Umar menolak dan tatkala Tamim ad Daari mengulangi permintaannya, ‘Umar menjawab,
أنت تريد أن تقول انا تميم الداري فاعرفوني!!
Saya tidak akan mengijinkanmu, karena engkau ingin mengatakan kepada manusia, Wahai manusia, saya Tamim ad Daari, kenalilah diriku!![3]
Abul Fadhl Al ‘Iraqi rahimahullah mengatakan,
فانظر توقف عمر في اذنه في حق رجل من الصحابة يعني تميماً الداري الذين كل واحد منهم عدل مؤتمن واين مثل تميم في التابعين ومن بعدهم؟
Lihatlah bagaimana ‘Umar tidak mengijinkan seorang sahabat, Tamim ad Daari, padahal status setiap sahabat adalah adil dan tepercaya. Bagaimana kiranya dengan tabi’in dan generasi setelahnya?![4]

  • Memenuhi pesan sponsor dan keinginan mayoritas orang awam
Jiwa yang lemah gemar akan kisah dan hikayat karena kelemahannya untuk menerima nasehat, peringatan, perintah dan larangan yang berlandaskan dalil, apatah lagi diharapkan untuk mengenal halal dan haram. Tatkala para da’i pendongeng takjub akan kuantitas khalayak yang memperhatikan, maka mereka pun beranggapan alangkah baiknya pada momen tersebut menambah kisah-kisah aneh yang lain!!
Tatkala disebutkan perihal Maimun, seorang pendongeng, Abul Malih rahimahullah mengatakan,
لا يخطئ القاص ثلاثاً: إما ان يُسَمِّنَ قوله بما يَهْزُل دينه واما ان يعجب بنفسه واما ان يأمر بما لا يفعل
Tiga hal yang benar terdapat dalam diri seorang pendongeng, yaitu dia memperbanyak perkataannya dengan sesuatu yang mengerdilkan agamanya; takjub akan diri sendiri; dan memerintah manusia untuk mengerjakan sesuatu yang justru tidak dilakukannya.[5]
  • Tipudaya setan
Benar, setan telah menghias-hiasi metode ini sehingga para da’i tertarik. Anda dapat menjumpai para da’i yang menggunakan metode ini menyebarluaskan semua kisah aneh yang dipenuhi kebatilan karena terkesan akan kisah tersebut. Akhirnya mereka dengan mudah berdusta, bahkan dengan tindakan tersebut mereka dapat digolongkan sebagai manusia yang paling pendusta! As Suyuthi rahimahullah dalam kitabnya Tahdzirul Khawwash, telah menyebutkan beberapa golongan pendusta tersebut. Beliau mengatakan,
قال الامام احمد بن حنبل رحمه الله تعالى: «اكذب الناس القصاص والسُّؤَال» – بضم السين وفتح الهمزة مشددة – أي الذين يسألون الناس اموالهم فيخترعون القصص ليتصدقوا عليهم
Imam Ahmad in Hambal rahimahullah mengatakan, “Manusia pendusta yang paling parah adalah tukang dongeng dan pengemis. Mereka itulah golongan yang meminta-minta harta manusia dengan merekayasa berbagai kisah agar diberi sedekah[6].”[7]

Kerusakan yang Ditimbulkan
Banyak sekali dampak negatif yang timbul dari perbuatan da’i-da’i yang menjadikan hikayat sebagai bahan dakwahnya. Diantaranya adalah:
  • Dengan berbagai kisah dan hikayah tersebut, para da’i tukang dongeng justru memalingkan kaum muslimin untuk membaca, mentadabburi, memetik ilmu, nasihat, dan petunjuk dari Al Quran dan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Membiasakan orang awam dengan perbuatan rekayasa, kedustaan, tidak bersikap tatsabbut (cek dan ricek), kisah yang berlebih-lebihan dan penuh khayalan yang menjerumuskan.
  • Memalingkan perhatian manusia kepada para da’i tukang dongeng dan justru lari dari para ulama dan da’i yang kredibel dan kapabel. Anda dapat melihat bahwa saat ini masyarakat awam lebih senang duduk di majelis da’i-da’i tukang dongeng daripada duduk di majelis ilmu ilmiah yang dibawakan para ulama.
  • Menipu mayoritas manusia karena mengira da’i tukang dongeng tersebut memiliki ilmu dan layak diminta fatwanya. Akhirnya mereka pun bertanya mengenai problematika kehidupan dan meminta fatwa kepada mereka, dan seringkali para da’i tersebut berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka pun sesat lagi menyesatkan.
  • Seringkali para da’i tukang dongeng menyampaikan berbagai kisah dan dongeng dengan berpegang pada hadits-hadits palsu dan lemah. Padahal, perbuatan ini merupakan dosa besar.
  • Memalingkan manusia dari kisah-kisah yang tertera dalam Al Quran, yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai kisah terbaik. Allah ta’ala berfirman,
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ (٣)
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Yusuf: 3).
  • Kerusakan terbesar yang diperbuat oleh para da’i tersebut adalah sikap mereka terhadap kisah para nabi. Dengan gampangnya mereka memberi tambahan cerita sehingga menyifati para nabi dengan berbagai sifat yang tidak pantas.
  • Terkadang para da’i tersebut menyampaikan berbagai kejadian fitnah yang terjadi di antara para sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in. Tidak sedikit mereka mencaci dan melanggar kehormatan para sahabat, padahal kewajiban kita kaum muslimin untuk menahan diri, tidak berkomentar negatif mengenai segala fitnah yang terjadi di antara para sahabat.
Akhir kata
Saudaraku, anda telah mengetahui bahwa sebenarnya para da’i pendongeng tersebut justru berbuat buruk terhadap Islam. Bahaya yang ditimbulkan teramat besar bagi kaum muslimin. Maka kita berkewajiban memegang teguh Al Quran dan hadits, memotivasi kaum muslimin yang lain untuk memperhatikan para ulama rabbani, mendorng mereka untuk menuntut ilmi, dan bukan memalingkan pandangan kepada para da’i pendongeng tersebut. Kita wajib waspada terhadap da’i-da’i pendongeng dan memperingatkan umat akan dampak yang ditimbulkan oleh mereka.
Hanya kepada Allah semata kami memohon untuk memberikan taufik-Nya agar kaum muslimin mampu melaksanakan segala perbuatan yang mendatangkan kebaikan bagi diri mereka. Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Diterjemahkan dari artikel Dr. Salim ath Thawil, “Dzammul Qashshashin” dengan beberapa penyesuaian.
Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

[1] Mawariduzh Zham-an hlm. 58 dan disebutkan oleh As Suyuthi dalam Tahdzirul Khawwas hlm. 245. [2] Syarhul Laalikaai li Ushulis Sunnah 1/139 dan Sunan Ad Darimi 1/47.
[3] Disebutkan oleh Ath Thurthukhi di hlm. 109.
[4] Tahdzirul Khawwash hlm. 223.
[5] Tahdzirul Khawwash hlm. 251-252.
[6] Tahdzirul Khawwash hlm. 265.
[7] Contoh akan hal ini, -ditinjau dari keanehan dan keinginan para da’i tersebut untuk mengumpulkan khalayak-seperti tindakan mereka yang terkadang menyampaikan kisah-kisah yang mengundang ketawa, di waktu lain menyampaikan kisah-kisah yang membuka aib seseorang, atau kisah-kisah yang memasyhurkan pelaku maksiat.

posted under | 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Alfurqoncell's Blog Headline Animator

Hosting Gratis

Hosting Gratis

Daftar isi Blog




Widget By: [blog-triks]

ShareThis

Blog Top Sites

Mesin Pencari Islami

Islamic Widget

Lijit Search Wijit

Planet Blog

PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

Islamic Calendar

PageRank

Site Rank
My site's rank is:
Rank
What's your
Site Rank?

Geo Visite


free counter

Download Kajian

Kajian.Net

Harga Blog Ini

Cari Blog Ini

Twitter

Chat Dengan Ana

Status YM

Recent Comments