Tampilkan postingan dengan label Firqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firqoh. Tampilkan semua postingan

PENYEMBAH KUBUR (2)

Oleh Ustadz Arif Syarifuddin Abu Humaid, Lc (Pimpinan Islamic Centre Bin Baz – Yogyakarta)

 Penyembahan Kubur di Tubuh Umat Islam           
Sampai Allah mengutus nabi dan rasul-Nya Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam setelah sekian lama tidak ada pengutusan rasul. Maka Allah memberi manusia hidayah melalui kenabian Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan apa yang dibawanya berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk. Allah satukan mereka di atas Islam, agama tauhid, setelah mereka tercerai-berai dan saling bermusuhan, setelah rusaknya akhlak dan keyakinan manusia, sehingga menjadi bersaudara. Allah telah selamatkan mereka dari jurang api neraka dengan Islam yang inti ajarannya adalah tauhid.”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imran: 103)Patung-patung dan berhala-berhala telah dihancurkan, kuburan-kuburan yang dibangun telah diratakan[1], serta telah dimusnahkan setiap apa yang disembah selain Allah, dan jadilah agama ini semua hanya milik Allah.”Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfal: 39)Manusia –saat itu- telah menjadi kaum muslimin yang bertauhid, beribadah lepada Allah tetap menghendaki mereka menjadi kaum musyrikin, munafikin maupun ahli kitab. Tidak ada statu penyimpangan pada Amat ini kecuali akan diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, di antaranya beliau shallallahu ’alaihi wasallam memperingatkan umatnya untuk tidak menjadikan kuburnya sebagai tempat yang diibadahi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang artinya,“Dan janganlah kalian jadikan kuburku sebagai ‘Id.”[2]Dalam hadits lain beliau shallallahu ’alaihi wasallam berdoa kepada Allah agar tidak menjadikan kuburnya sebagai berhala yang disembah sambil memperingatkan umatnya akan hal itu,”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah, amat besar kemurkaan Allah atas suatu kaum yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”[3]Sehingga tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam wafat melainkan Islam benar-benar mengalami kemajuan, kejayaan, dan kemenangan, sebagai janji Allah bahwa Islam akan dimenangkan di atas agama-agama yang alin.”Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaf: 9)Keadaan tersebur berlanjut sampai masa para Khulafa’ Rasyidin, hingga kaum muslimin berhasil melumpuhkan dua kerajaan adidaya –pada saat itu-, Persia dan Romawi, yang sebelumnya merupakan dua kerajaan yang kuat dan tangguh menjadi takluk dan kehina-dinaan.Maka jelas keadaan yang demikian tidaklah disenangi oleh musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrikin para hamba kubur, berhala dna patung. Mereka membuat perencanaan yang rapih lagi rahasia untuk mengembalikan kaum muslimin ke keadaan seperti di masa jahiliyyah dahulu. Di antaranya adalah dengan virus ghuluw (sikap berlebihan) dalam memuji dan mengagumi orang-orang shalih sampai mengagungkan kuburan mereka yang jelas tidak pernah diijinkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Maka diujilah kaum mislimin dengan munculnya seorang mulhid, zindiq, musyrik, munafik, dan seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam yaitu Abdullah bin Saba’. Dia menebarkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ’anhu adalah tuhan yang disembah dan dia hidup kembali setelah matinya, sebagaimana menebarkan keyakinan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam hidup kembali setelah wafatnya, demikian juga para wali yang telah mati, sebagaimana layaknya hidup di dunia.Abdullah bin Saba’ memiliki satu organisasi rahasia yang dikenal dengan sebutan Saba’iyyah yang merasuk dalam tubuh umat Islam, yang kemudian berkembang sampai menjadi kelompok/ firqah Rafidhah[4] dan semisalnya seperti Isla’iliyyah, Qaramithah, Nushairiyyah, dan yang lainnya dari kelompok-kelompok Bathiniyyah[5]. Mereka ini adalah orang-orang yang dikenal sebagai para penyembah kuburan dan penghuninya. Mereka membangun masjid-masjid dan kubah-kubah di atas kuburan[6], yang dengan demikian mereka telah menghidupkan sunnah-sunnah umat Yahudi, nasrani dan Musyrikin.Jadi, dalam tubuh umat ini benar-benar telah muncul satu firqah quburiyyah (penghamba kubur) dalam wujud Rafidhah. Merekalah firqah yang memakmurkan kuburan-kuburan, sementara mereka meninggalkan meskid-masjid.Tidak ketinggalan dengan buku-buku filsafat Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yang juga ikut berperan dalam menyebarkan keyakinan Quburiyyah dan penyembahan kepada berhala. Banyak dari kaum muslimin yang membaca dan mempelajarinya terpengaruh dengan filsafat tersebut, di antaranya adalah keyakinan terhadap kubur. Seperti al-farabi, Ibnu Sina, ath-thusi dan yang lainnya yang mempermainkan Islam –dengan memasukkan filsafat Yunani tersebut ke dalam Islam-, sebaimana Paulus (65 M)[7] mempermainkan agama nasrani. Lau diikuti oleh kelompok ahli kalam seperti Maturidiyyah dan Asy-’Ariyyah Kullabiyyah yang duduk menekuni buku-buku filsafat sehingga mereka terpengaruh dengan aqidah quburiyyah kaum filsafat.Sebagaimana telah muncul firqah Shufiyyah yang juga memilki peran besar dalam menebarkan ajaran quburiyyah. Bahkan pengaruh mereka ini lebih besar dan lebih menyebar hampir di seluruh dunia Islam. Sederetan tokoh-tokoh yang sangat dikenal di kelangan mereka, seperti al-Hallaj (309 H), Ibnul Faridh (632 H), Ibnu Arabi (638 H), Ibnu Sab’in (669 H), at-Tilmisani (690 H), Asy-Sya’rani (973 H) dan yang lainnya, disamping membawa bencana di tengan umat ini dengan aqidah ’hululiyah’ dan ’ittihadiyyah (wihdatul wujud)’-nya[8], mereka juga membawa aqidah quburiyyah yang merupakan warisan kaum Nuh ’alaihissalaam serta Yahudi dan Nasrani.Kemudian melalui jalur mereka, rafidhah, kaum filsafat, ahli kalam dan shufiyyah itulah, aqidah quburiyyah menjalar sampai mempengaruhi banyak kaum muslimin yang menisbatkan diri mereka kepada imam-imam yang empat (sedangkan para imam tersebut berlepas didi dari mereka). Bahkan virus quburiyyah ini juga berhasil merambat ke kalangan orang-orang yang menisbatkan kepada ilmu –bagaimana lagi dengan yang awam-, kecuali yang Allah selamatkan dari hamba-hamba-Nya yang bertauhd.Kemudian semakin kuat aqidah quburiyyah menyebar.[9] Wallahul Musta’an. 

Sekilas Balik Tentang Firqah-firqah Quburiyyah dalam Tubuh Umat Islam.
Dari penjelasan di atas, kita dapati bahwa firqah-firqah quburiyyah itu banyak jumlahnya. Namun, mereka ini berbeda-beda dalam tingkat ghuluw (melampaui batas)-nya, bermacam-macam nama mereka bergantung pada penisbatannya kepada tokoh-tokoh atau madrasah tempat mereka berguru. Sebagian mereka ada yang betul-betul tergolong penghamba berhala tulen, sebagian meyakini beberapa aqidah quburiyyah yang syirik, dan sebagian lain hanya terpengaruh dengan bebeapa kebid’ahan quburiyyah.Di antara firqah-firqah quburiyyah tersebut –sebagian telah tersebut diatas- adalah sebagai berikut.Rafishah –dengan berbagai sekte-sektenya-, Shufiyyah –Hululiyyah dan Ittihadiyyah- yang paling melampaui batas di antara yang lain, Qadiriyyah, Rifa’iyyah, Syadziliyyah, Al-Jasytiyyah, Al-Badawiyyah, Naqsyabandiyyah, tijaniyyah dan lain-lain dari firqah-firqah Shufiyyah. Kemudian kebanyakan ahli filsafat dna manthiq, serta ahli kalam seperti Jahmiyyah, Maturidiyyah dan sebagian Asy-’ariyyah Kullabiyyah. Demikian juga Brelawiyyah, Deobandiyyah, dan banyak dari Tabligh, serta yang lain-lain.[10] ((Disalin dari Majalah Fatawa vol. 09/ Th. I/ 1424 H – 2003 M)) 


[1] Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kaum muslimin ketika Fathu Makkah, dan sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu yang artinya,”Jangan kamu biarkan satu patung (gambar) pun kecuali kamu hapus/ hilangkan, dan (jangan pula kamu biarkan) satu kubur pun yang dibangun kecuali kamu ratakan.” (Shahih Muslim no. 969)
[2] H.R. Abu Daud (no. 2042) dan Imam Ahmad (II/367), dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud (I/383, hadits no. 1769). Dan makna ’Id adalah sesuatu yang dibiasakan baik tempat (seperti halnya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) maupun waktu (seperti ’Idul Fitri dan ’Idul Adha).
[3] H.R. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 414, I/172), dishahihkan oleh Syaikh al-albani dalam Tahdzir as-Sajid (hal. 18-19)
[4] Salah satu sekte Syi’ah yang ekstrim, dinamakan Rafidhah karena mereka meninggalkan Zaid bin Ali bin Al-Husain, menolak dan menghinanya, karena Zaid menolak untuk berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Lihat al-Farqu bain al-Firaq (24-25), as-Siyar (V/390), dan Taj al-’Arus (V/34)
[5] Ini adalah nama-nama bagi sekte-sekte kecil dalam Rafidhah. Disebut Bathiniyyah karena mereka meyakini bahwa zhahir al-Qur’an dan hadits itu terdapat sesuatu yang tersembunyi, sebagaimana ada kulit (luar) dan ada isi (inti/ hakikat). Disebut Isma’iliyyah karena dinisbatkan kepada salah seorang tokoh mereka yang bernama Muhammad bin Isma’il bin Ja’far (198 H). Disebut Qramithah, karena dinisbatkan kepada Hamdan Qurmuth, salah seorang da’i mereka. Disebut Nushairiyyah, karena dinisbatkan kepada Muhammad bin Nushair al-Bashri (260 H).
[6] Herannya kaum muslimin menjadikannya sebagai suatu budaya ayau seni khas Islam yang mana Islam berlepas darinya. (Pen.)
[7] Nama aslinya Syawul, seorang Yahudi berkebangsaan Romawi, lahir di Thurthus, berpura-pura memeluk agama Nasrani, dengan tujuan untuk merusak dan menyimpangkan kaum Nasrani.
[8] Hululiyyah yaitu keyakinan bahwa Allah berada dalam segala sesuatu (makhluk). Sedangkan Ittihadiyyah/ wihdatul wujud yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu (makhluk) itu hakikatnya adalah Allah, atau bahwa Allah itu makhluk dan makhluk itu Allah. Ittihadiyyah ini lebih sesat dari hululiyyah karena ittihadiyyah tidak membedakan antara Allah dengan makhluk, bahkan mereka lebih sesat dari Yahudi dan Nasrani.
[9] Lihat Juhud ‘Ulama al-Hanafiyyah (I/21-27), dan lihat perkataan al-‘Allamah Syukri al-Alusi di (I/469).
[10] Lihat Juhud ‘Ulama al-Hanafiyyah (I/27-29)
http://salafiyunpad.wordpress.com/2007/12/06/penyembah-kubur-2/

posted under | 0 Comments

PENYEMBAH KUBUR (1)

Oleh Ustadz Arif Syarifuddin Abu Humaid, Lc (Pimpinan Islamic Centre Bin Baz – Yogyakarta)             
Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan alam semesta beserta isinya, khusnya jin dan manusia, agar mereka beribadah kepada-Nya dengan mengesakan-Nya serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. adz-Dzariyat: 56)           
Dalam semua bentuk ibadah, yang hakikatnya adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, baik berupa perkataan hati, lisan maupun perbuatan hati dan anggota badan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Seperti mahabbah (kecintaan) dan ta’zhim (pengagungan) kepada Allah, berdo’a, ber-isti’anah dan ber-istighatsah, shalat, shaum, menyembelih kurban, dan bentuk-bentuk ibadah yang lain, semuanya hanya ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Untuk tujuan itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul-Nya dengan membawa kitab dan risalah dari-Nya kepada umat masing-masing, terkecuali nabi dan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam, yang Dia subhanahu wa ta’ala utus kepada semua manusia, untuk memberikan pengajaran dan penjelasan tentang begaimana cara mereka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala tersebut sekaligus bagaimana mereka harus mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ibadah mereka kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyeru umatnya), ’Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu.’ ” (Q.S. an-Nahl: 36) 
Sejarah Terjadinya Penyembahan Kubur           
Manusia pada awal mulanya, semenjak Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan Adam ’alaihissalam, mereka dalam keadaan bertauhid, beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara menusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. al-Baqarah: 213)”Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.” (QS. Yunus: 19)           
Jadi, dahulunya manusia itu di atas millah (ajaran) yang satu yaitu mentauhidkan/ mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ibadah mereka dan tidak menyekutukan-Nya. Mereka beribadah dengan tata cara yang satu dengan petunjuk dan bimbingan para nabi-nabi Allah, tidak dengan tata cara bid’ah yang mereka ada-adakan sendiri. Saat itu belum ada orang yang melakukan kesyirikan, belum ada yang menyembah kubur, patung, dan berhala, dan belum ada yang melakukan dalam agama Allah. Saat itu belum ada patung yang disujudi, belum ada berhala yang disembah, belum ada kubur yang dijadikan tempat beri’tikaf/ beribadah di dekatnya, belum ada pohon yang dijadikan sebagai tempat mengambil berkah, belum ada batu (yang dikeramatkan) yang dijadikan tempat menyembelih, belum ada malaikat yang dijadikan sandaran dalam bernadzar, belum ada nabi yang dijadikan tempat beristighatsah, dan belum ada orang shalih yang dimintai pertolongan selain Allah.           
Sampai pada suatu generasi sebelum diutusnya Nabi Nuh ’alaihissalaam, adalah Iblis –la’natullah ’alaih – tidak senang melhat pemandangan yang menyakitkannya tatkala mereka taat kepada Allah, berpegang dengan syari’at-Nya, dan beibadah hanya kepada –Nya. Dia mencari-cari kesempatan untuk memalingkan mereka dari hal itu dengan memalingkan mereka dari hal itu dengan cara-cara yang halus lagi dihias-hiasi, meski awal mulanya dia tidak berhasil. Hingga keika wafat sebagian orang-orang shalih dari kalangan mereka (Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr) yang memiliki kedudukan di mata mereka – karena telah berjasa megajarkan kepada mereka ilmu dan kebaikan – mereka amat bersedih berpisah dengan orang-orang shalih tersebut. Maka Iblis –la’natullah ’alaih – datang kembali untuk membuat makar dan pengelabuan terhadap mereka sampai akhirnya mereka melakukan i’tikaf (beribadah) di dekat kuburan orang-orang shalih tersebut dan membuat patung-patung mereka yang ditancapkan di majelis-majelis di mana mereka dahulu mengajarkan ilmu dan kebaikan. Demikianlah keadaan tersebut sampai datang generasi berikutnya, di saat ilmu telah ditinggalkan dan kejahilan telah merajalela, hingga akhirnya patung-patung tersebut disembah.[1]           
Itulah makna dari penafsiran Ibnu ’Abbas radliallahu ’anhuma tentang ayat yang artinya,”Dan mereka berkata, ’Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Ilah-Ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.” (QS. Nuh: 23)           
Begitulah cara-cara syaithan dalam menggiring manusia, sehingga muncullah di antara anak keturunan Adam ’alaihissalaam satu firqah (kelompok) penyembah kuburan, yang melakukan kesyitirikan terhadap Allah, beribadah kepada orang-orang shalih atau pere wali dengan berbagai macam bentuk ibadah.           
Ibnul Qayyin rahimahullah menyebutkan bahwa fitnah penyembahan kubur merupakan salah satu tipu daya syaithan yang paling besar. Beliau menegaskan bahwa awal pertama kali fitnah ini muncul pada kaum Nabi Nuh ’alaihissalaam sebagaimana yang Allah kabarkan dalam al-Qur’an yang artinya,           
”Nuh berkata, ’Ya rabbku, sesengguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan .telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar. Dan mereka berkata, ’Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Taghuts, Ta’uq, dan Nasr.’ Sesedahnya mereka telah meyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan’.” (QS. Nuh: 21-24)[2]             
Lalu beliau – Ibnul Qayyim rahimahullah – menukil perkataan Salaf tentang ayat ini yang menyebutkan bahwa mereka –Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr –adalah orang –orang shalih di antara kaum Nuh ’alaihissalaam. Kemudian tatkala mereka wafat, orang-orang beri’tikaf di kubur-kubur mereka, lelu membuat patung-patung mereka. Hingga lama masanya atas mereka, kemudian manusia menyembah mereka (orang-orang shalih tersebut).[3]           
 Maka mereka telah menggabungkan antara dua fitnah, fitnah kubur dan fitnah patung. Kedua fitnah inilah yang pernah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam hadits muttafaq ’alaih dari ’Aisyah radliallahu ’anha tentang gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah, yang disebut Maria. Dan bahwa dalam gereja tersebut terdapat gambar-gambar dan patung-patung. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam berkata, ”Mereka adalah kaum yang apabila mati seorang –hamba- yang shalih di antara mereka, mereka membangun masjid (tempat ibadah mereka) di atas kuburnya, lalu mereka buat gambar-gambar/ patung-patung di dalamnya. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.”[4]           
Maka Nabi shallallahu ’alaihi wasallam telah menggabungkan antara patung-patung dan kuburan. Dan ini pulalah sebab dari penyembahan terhadap ’Laat’.           
Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan dari Manshur dari Mujahid –tentang ayat yang artinya-,”Maka apakah patut (pantas) kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza.” (QS. An-Najm: 19)           
Beliau –Mujahid- berkata, ”Laat –dahulunya- adalah seorang yang membuat adonan tepung –gandum- untuk mereka –yang berhaji-. Kemudian dia mati, mereka beri’tikaf di kuburannya.”[5]           
Jadi, jelaslah bahwa sebab penyembahan kepada Wad, yaghuts, Ya’uq, Nasr, dan Laat adalah pengagungan terhadap kubur mereka, kemudian dibuatlah patung-patung mereka hingga disembah.[6] 
Penyembahan Kubur dari Masa ke Masa           
Apa yang disebutkan di atas –yang dilakukan oleh kaum Nuh ’alaihissalaam – merupakan asal-usul terjadinya penyembahan terhadap kubur yang merupakan sumber permulaan kesyirikan yang terjadi di dunia.           
Meskipun kemudian Allah subhanahu wa ta’ala telah membinasakan mereka, karena menentang ajakan rasul-Nya Nuh ’alaihissalaam agar mereka kembali kepada tauhid, beribadah hanya kepada Allah. Namun, penyembahan terhadap orang-orang shalih terus menyebar, sampai kepada umat-umat setelahnya seperti kaum ’Ad –kaum Nabi Hud ’alaihissalaam-, Tsamud –kaum Nabi Shalih ’alaihissalaam-, Madyan –kaum Nabi Syu’aib ’alaihissalaam-, dan yang lainnya.           
Bahkan dengan jelas bahwa keyakinan Quburiyyah (penyembahan kubur) telah masuk dalam filsafat yunani, seperti yang dikibarkan Aristoteles dan murid-muridnya, di samping mereka juga adalah para penyembah patung.           
Racun Quburiyyah terus menyebar sampai kepada kaum Yahudi dan Nasrani, di mana mereka termasuk orang-orang yang menyembah kubur para nabi dan orang-orang shalih. Dan terus berkembang dengan berbagai bentuknya, sampai bermunculan beragam peribadatan kepada berhala, patung, bebatuan dan pepohonan yang memiliki hubungan dengan kuburan dan para penghuninya –yang diyakini sebagai orang-orang shalih-.            Hingga sampailah keyakinan Quburiyyah ini kepada kaum musyrikin Arab. Pada asalnya dahulu mereka berada di atas millah (ajaran) Nabi Ibrahim ’alaihissalaam yaitu ajaran tauhid. Akan tetapi syaitan elah menggelincirkan mereka dan menghias-hiasi mereka agar beribadah kepada kubur dan para penghuninya, sehingga mesuklah bermacam-macam penyembahan kepada berhala-berhala melalui jalur peribadatan kepada kubur sebagai pembukanya.[7] ((Disalin dari Majalah Fatawa vol. 09/ Th. I/ 1424 H – 2003 M)) 


[1] Lihat Juhud ‘Ulama al-Hanafiyyah fi Ibthali Aqaid al-Quburiyyah (I/17-18) dan (I/401-405), karya DR. Syamsuddin as-Salafi al-Afghani –rahimahullah- [2] Ighatsah al-Lahfan (I/286)
[3] Idem (I/287). Dan lihat pula Kitab at-Tauhid dan syarahnya, Fath al-Madjid, (I/281) tahqiq Abu Muhammad Asyraf Abdul Maqshud.
[4] H.R. Bukhari (no. 424, 3660), dan Muslim (no. 528). Dan ini adalah lafal Bukhari.
[5] Lihat Tafsir Ath-Thabari tentang tersebut, surat an-Najm ayat ayat 53
[6] Lihat Ighatsah al-Lahfan (I/287-288)
[7] Lihat Juhudul Ulama al-Hanafiyyah (I/18-19) dan (I/407-417)
http://salafiyunpad.wordpress.com

posted under | 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Alfurqoncell's Blog Headline Animator

Hosting Gratis

Hosting Gratis

Daftar isi Blog




Widget By: [blog-triks]

ShareThis

Blog Top Sites

Mesin Pencari Islami

Islamic Widget

Lijit Search Wijit

Planet Blog

PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

Islamic Calendar

PageRank

Site Rank
My site's rank is:
Rank
What's your
Site Rank?

Geo Visite


free counter

Download Kajian

Kajian.Net

Harga Blog Ini

Cari Blog Ini

Twitter

Chat Dengan Ana

Status YM

Recent Comments